Sabtu, 23 November 2013

SAMBUNGAN DARI KAJIAN KITAB NURUL MUSTHOFA JILID 2


بسم  الله  الرحمن  الرحيم
الحمد لله رب العالمين  حمدا يوافى نعمه ويكافئ مزيده يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك سبحانك لا نحصي ثناء عليك انت كما اثنيت على نفسك فلك الحمد حتى ترضى ولك الحمد اذا رضيت ولك الحمد بعد الرضى. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد صلاة تكون لنا على الله بابا مشهودا وعلى أعدائنا حجابا مسدودا وعلى اله وصحبه عدد خلق الله بدوام ملك الله. أما بعد :
Dengan menyebut nama Allah SWT Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT Dzat yang menguasai seluruh alam semesta, dengan segenap pujian yang sesuai dengan segala anugerah-Nya dan memadahi sebanyak tambahan anugerah-Nya. Ya Allah sesembahan kami, bagi-Mu lah segala puji sebagaimana pujian itu patut bagi kemuliaan Dzat-Mu dan agungnya kekuasaan-Mu, Maha Suci Engkau Ya Allah, kami tidak akan mampu untuk mengungkapkan pujian kepada-Mu selayak pujian-Mu kepada Dzat-Mu sendiri, maka bagi-Mu lah segala puji sehingga Engkau ridla, dan bagi-Mu lah segala puji sesuai keridlaan-Mu, dan bagi-Mu lah segala puji atas keridlaan-Mu (kepada kami). Ya Allah limpahkanlah shalawat (Rahmat ta’dlim-Mu) dan salam kesejahteraan dari-Mu kepada junjungan kami Baginda Nabi Muhammad SAW, semoga dengan berkahnya, Allah SWT melimpahkan segala anugerah-Nya kepada kita serta melindungi kita dari semua musuh-musuh kita. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan juga kepada para keluarga dan para sahabat  Baginda Nabi Muhammad SAW, sebanyak makhluk ciptaan-Nya kekal abadi selama-lamanya. Amiin Ya Robbal ‘Aalamiin.

Jumat, 22 November 2013

HIKMAH SHOLAWAT



مَا مِنْ أَحَدٍ سَلَّمَ عَلَيَّ إِلا رَدَّ اللَّهُ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلامُ

Seseorang yang menyampaikan salam (bersholawat) ke padaku Pasti Allah subhanahu wata'alla. akan mengembalikan rohku sehingga aku menjawab salam ke padanya". (HR Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad, Imam Abu Daud)---
Sanad Hasan...
قد صححه أهل الحديث الألباني وغيره
  

Ada Riwayat Lagi

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : " لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يُصَلِّي عَلَيْهِ صَلاةً إِلا وَهِيَ تَبْلُغُهُ ، يَقُولُ الْمَلَكُ : فُلانٌ يُصَلِّي عَلَيْكَ كَذَا وَكَذَا صَلاةً

Tidak ada seseorang pun dari Umat Baginda Nabi Muhammad sholallohu Alaihi Wa sallam (yg mau) bersholawat ke Baginda Rasululloh, melainkan ia akan sampai kepada Baginda, lalu malaikat berkata kepada Baginda "Si fulan bersholawat ke padamu dengan begini dan begini..."

Ini menunjukkan Baginda Nabi Muhammad sholallohu Alaihi Wa sallam Masih Memantau Umatnya yang Mau bersholawat kepadanya.

Imam al-'Utbi (Abu 'Abdul Rahman Muhammad bin 'Abdullah atau 'Ubaidillah bin 'Amr bin Mu`awiyah bin 'Amr bin 'Utbah bin Abu Sufyan Sakhr bin Harb yang lebih dikenali sebagai Imam al-'Utbi) di mana dia telah berkata:

“Suatu ketika aku duduk di samping kubur Junjungan Nabi Muhammad sholallohu Alaihi Wa sallam, tiba-tiba datang seorang A'raabi (penduduk kampung) mengucapkan salam kepada Junjungan Nabi Muhammad sholallohu Alaihi Wa sallam dengan berkata: “Salam kesejahteraan bagimu, wahai Rasulullah, aku telah mendengar Allah Ta`ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُواْ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

{Surah an-Nisa’: 64]

Dan aku telah mendatangimu dalam keadaan memohon ampunan dari segala dosaku dan mengharapkan syafaatmu kepada Tuhanku (dengan Wasilah kepadamu).”

Lalu dia melantunkan beberapa bait syair seperti berikut:-

يا خير من دفنت بالقاع اعظمه * فطاب من طيبهن القاع والأكم
نفسي الفداء لقبر انت ساكنه * فيه العفاف وفيه الجود و الكرم

Wahai manusia terbaik yg jasadnya bersemedi dalam bumi
Maka harumlah lembah dan bukit dengan keharumannya
Jiwaku jadi tebusan kubur yang engkau huni
Dalamnya ada (pribadi) yang suci, pemurah lagi mulia

Al-'Utbi meneruskan ceritanya: “Kemudian, dia berpaling meninggalkan makam Baginda Nabi Muhammad sholallohu Alaihi Wa sallam, tiba-tiba aku mengantuk, lalu aku bermimpi melihat Junjungan Nabi Muhammad sholallohu Alaihi Wa sallam dalam tidurku dan baginda bersabda kepadaku:

“Wahai 'Utbi, segera pergi temui A'rabi itu dan khabarkan berita gembira kepadanya bahwa Allah telah mengampuninya.”

Sumber : Al adzkar Imam Nawawi. Halaman 206, Dar al-Fikr Beirut- 2002M/1422H

Sabtu, 02 November 2013

RAHASIA DI BALIK NAMA MUHAMMAD SAW. (TERJEMAH KITAB QURRAT AL-‘UYUN SYARH NADZM IBNU YAMUN)


Kata-kata penadzam “Muhammad” adalah nama nabi yang paling masyhur. Beliau memiliki beberapa nama. Menurut sebagian ulama, nama beliau mencapai 400 nama.

Imam Abubakar al-Arabi menukil keterangan dari sebagian ulama bahwa: “Allah Swt. memiliki 1.000 nama, dan Nabi Muhammad Saw. memiliki 1.000 nama pula.”

Lafadz “Muhammad” tersebut adalah isim alam pindahan dari isim maf’ul fi’il bina mudhaf, yang maknanya adalah orang yang banyak pujiannya. Sehingga beliau selalu dipuji setelah dipuji (dipuji tanpa henti).

Lafadz “Muhammad” juga lebih berarti dari pada lafadz “Mahmud”. Karena lafadz tersebut terdiri dari fi’il tsulatsi.

Beliau diberi nama “Muhammad” dengan maksud agar antara nama Muhammad dengan sifat-sifat beliau seimbang. Sebab, beliau selalu dipuji oleh makhluk di seluruh alam dari setiap sudut, baik dari sudut hakikat, sifat, bentuk tubuh, budi pekerti, amal, tingkah laku, ilmu, maupun ketetapan hukumnya.

Beliau selalu dipuji baik di bumi maupun di langit, di dunia maupun di akhirat. Beliau dipuji di bumi, sebab ilmu dan hikmahnya yang bermanfaat. Dan beliau juga dipuji di akhirat sebab syafaatnya.

Pada suatu ketika pernah ada orang yang bertanya kepada kakek beliau, Abdul Muthalib Ra.: “Kenapa cucu Tuan diberi nama Muhammad, padahal nama itu tidak terdapat pada nama-nama ayah dan kakek Tuan?”

Maka Abdul Muthalib Ra. pun menjawab: “Aku berharap agar cucuku, Muhammad, selalu dipuji baik di langit maupun di bumi.”

Maka harapan sang kakek pun dikabulkan oleh Allah Swt.