Rabu, 12 Februari 2014

SENYUM RASULULLAH SAW


Senyum Rasulullah Saw.

Saat menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah Az Zahrah, dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, Baginda Nabi Muhammad SAW tersenyum lebar. Itu merupakan peristiwa yang penuh kebahagiaan.

Hal serupa juga diperlihatkan Rasulullah SAW pada peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Makkah, karena hari itu merupakan hari kemenangan besar bagi kaum muslimin.
“Hari itu adalah hari yang penuh dengan senyum panjang yang terukir dari bibir Rasulullah SAW serta bibir seluruh kaum muslimin” tulis Ibnu Hisyam dalam kita As Sirah Nabawiyyah.

SAYYIDINA AMR BIN ASH RA


Ya Rasulullah siapa orang yang paling kaucintai?

عن عمر بن العاص رضي الله تعلي عنه قال : قال رسول الله صلي الله عليه وأله وصحبه وسلّم احب النّاس إليّ عائشة ومن الرجال ابوها <البخاري و مسلم>
Artinya : Dari Amr bin ash radiallahu anhu berkata : telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam orang yang paling aku cintai ialah Aisyah dan dari lelaki ialah bapaknya
(sahih bukhari dan muslim)

Ad-da`i ilallah sayyidil habib Ahmad bin Jindan mensyarahkan makna hadis diatas bahwa suatu ketika salah seorang sahabat sayyidina Amr bin ash memberanikan bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang siapa sih diantara para sahabat semuanya yang paling di cintai oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Sebab seluruh para sahabat merasa dirinyalah yang paling di cintai oleh Rasulullah saw, karena sikap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam terhadap setiap sahabat sama. Bahkan sayyidina amar bin ash yg bertanya kepada Rasulullah saw pun baru masuk islam namun perhatian, kasih sayang, senyuman yang di berikan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak berbeda dengan sahabat lain yang lebih dahulu masuk islam.

Senin, 27 Januari 2014

ADA NAMA NABI MUHAMMAD SAW PASTI ADA NAMA ALLAH SWT


Seakan-akan Rasulullah saw diinginkan Allah SWT sebagai kekasihNya saja tunggal

Allah Subhanallahu Wata`ala berfirman :
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
( الشرح : 4 )
“ Dan Kami tinggikan sebutan (nama) mu”. ( QS. Al Insyirah : 4 )

Ayat ini ditafsirkan dalam hadits qudsi :
يَا مُحَمَّدُ جَعَلْتُكَ ذِكْرًا مِنْ ذِكْرِيْ مَنْ ذَكَرَكَ فَقَدْ ذَكَرَنِيْ وَمَنْ أَحَبَّكَ فَقَدْ أَحَبَّنِيْ
“ Wahai Muhammad, Aku telah menjadikanmu dzikir dari dzikirku, barangsiapa yang menyebutmu maka ia telah menyebut-Ku, dan barangsiapa yang mencintaimu sungguh ia telah mencintai-Ku”

Sehingga tidak disebut nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali pasti ada nama Allah, dan tidak juga disebut nama Allah subhanahu wata’ala kecuali pasti ada nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana Shahib Ad Diba’ (pengarang Maulid Diba) mengatakan :
قَرَنَ إِسْمَهُ مَعَ اسْمِهِ تَنْبِيْهًا لِعُلُوِّ مَقَامِهِ
“Menggabungkan namanya (nabi Muhammad) dengan nama-Nya (Allah) karena tingginya kedudukannya”.